Selasa, 11 November 2014

Tugas Akhir "Manfaat Musik Klasik terhadap Perkembangan Anak" (Vania 705140030)


Manfaat Musik Klasik terhadap Perkembangan Anak

Latar Belakang
     Saat ini perkembangan musik di dunia pendidikan menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan karena musik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan seorang anak. Peneliti dari Universitas California melakukan eksperimen dengan membagi anak usia 3-5 tahun menjadi dua kelompok. Selama delapan bulan satu kelompok diberi pelajaran musik yang beragam, sedangkan kelompok lainnya tidak. Setelah itu kedua kelompok diberi tes object assembly, yaitu menggabungkan potongan-potongan tertentu menjadi sesuatu secepat mungkin. Hasilnya, kelompok yang diberi pelajaran musik mencapai skor 80% lebih tinggi daripada kelompok lainnya. Menurut penelitian di atas dapat dibuktikan bahwa pentingnya pendidikan musik untuk anak-anak usia SD dan SMP dalam mengembangkan kemampuan mereka di sekolah maupun di luar sekolah (Munandar, 2002).

Pengertian Musik
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi atau suara yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014).

Jenis Musik yang Memengaruhi Perkembangan Anak
     Jenis musik sangat beragam, diantaranya musik klasik, musik tradisional, dan musik populer. Jenis musik yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak adalah musik klasik karena musik klasik memiliki irama dan nada yang teratur. Bentuk musik klasik yang memiliki irama dan nada teratur adalah instument seperti instrument  piano, biola, dan gitar (Fadil, 2013).

Pengertian Musik Klasik
      Menurut Kamus Oxford. Musik klasik adalah musik yang ditulis dalam tradisi Eropa selama periode berlangsung sekitar 1750-1830. Bentuk-bentuk musik klasik seperti simfoni, konserto, dan sonata yang standar. Musik klasik sering dibandingkan dengan musik bernuansa barok dan romantis (Oxford Dictionaries, 2007).

Hubungan antara Musik Klasik dengan Perkembangan Anak
     Musik klasik sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan perkembangan seorang anak. Perkembangan IQ dan EQ anak yang senang mendengarkan atau memainkan musik klasik akan berbeda dengan anak yang tidak terbiasa dengan musik. Black dalam “The Musical Mind” (dikutip dalam Djohan, 2009) mengatakan bahwa sejak bayi, manusia memang sudah memiliki mekanisme saraf yang secara eksklusif terfokus pada musik. Langstaff dan Meyer  (dikutip dalam Djohan, 2009) juga mengatakan bahwa pada usia 11 tahun, sirkuit saraf anak sangat tepat untuk mengembangkan segala jenis persepsi dan perbedaan sensori dalam musik, seperti mengidentifikasi pitch dan ritme. Jika masa perkembangan ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal, maka anak dapat mengalami tuna nada. Oleh sebab itu, hubungan musik klasik dengan perkembangan anak sangat erat sehingga mengharuskan anak untuk bisa mengenali musik klasik sedini mungkin.

Manfaat Musik Klasik untuk Perkembangan Anak
     Terhadap IQ (perkembangan otak).
     Meningkatkan daya otak. Rauscher melakukan penelitian dengan memberikan tes penalaran spesial dari suatu tes inteligensi standar pada anak. Sebelum mengerjakan tes pertama, anak mendengarkan salah satu sonata Mozart selama 10 menit. Sebelum mengerjakan tes kedua mereka mendengarkan suatu tape relaksasi, dan sebelum mengerjakan tes ketiga anak tidak mendengarkan apapun. Ternyata hasil skor IQ terbaik dan tertinggi adalah saat tes pertama ketika mereka mendengarkan musik Mozart (Munandar, 2002).
     Musik merangsang rekognisi (mengenali kembali). Jika anak mendengar alunan musik klasik, saraf indera pendengaran mengirim sinyal ke otak untuk mengenali alunan musik tersebut. Otak menganalisis sinyal dan mencari padanan sinyal pada gudang ingatan. Jika anak pernah mendengar alunan serupa, maka anak tersebut akan melakukan respon mengikuti musik  yang mereka dengarkan (Satiadarma & Zahra, 2004).
     Membuat anak lebih kreatif. Pendidikan musik klasik dapat meningkatkan kemampuan anak dalam hal mendengarkan dan memahami instruksi, bercerita dengan kreatif, berhitung matematis, serta menyusun kalimat. (Bernhard, 2007).
     Memperluas fungsi otak. Peneliti dari Universitas Munster di Jerman melaporkan bahwa pelajaran musik klasik untuk anak-anak ternyata dapat memperluas fungsi otak. Hal ini dibuktikan oleh penemuan peneliti pada musisi bahwa area otak yang digunakan untuk menganalisis pitch musik ternyata 25% lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak pernah memainkan alat musik (Djohan, 2009).
     Meningkatkan kemampuan matematika dan sains. Tramko, seorang ahli saraf dari Harvard Medical School membuktikan adanya tumpang tindih pada sel otak yang memproses musik, bahasa, logika-matematika, dan abstract reasoning. Saat dilakukan survei di 17 negara terhadap kemampuan anak usia kurang dari 14 tahun dalam bidang sains, ditemukan bahwa anak dari negeri Belanda, Jepang, dan Hongaria mempunya prestasi tertinggi di dunia. Hal ini dikarenakan ketiga negara ini memasukkan unsur musik secara intensif ke dalam kurikulum mereka (Lucy, 2009).
     Terhadap EQ (perkembangan mental dan emosi anak).
     Menghilangkan stres. Musik klasik telah terbukti menurunkan hormon-hormon penyebab stres tertentu di dalam tubuh, dan juga memicu neurotransmitter penghasil rasa senang dari otak yang dikenal sebagai endorfin (Sheppard, 2007).
     Dapat membangkitkan semangat. Menurut Anthony (dikutip dalam Suryana, 2013), ketika mendengarkan musik klasik pikiran anak yang sedang jenuh atau bosan dapat tenang. Mendengarkan musik juga dapat memunculkan semangat mereka kembali.
     Membantu mengekspresikan diri. Anak-anak dapat menciptakan ekspresi musikal dari emosi yang sedang dialaminya dan representasi musikal dari konsep tulisan. Oleh karena itu, musik klasik adalah sistem yang unik untuk mengomunikasikan ide dan emosi yang kompleks (Sheppard, 2007).
     Menentukan perasaan anak. Anak akan mengungkapkan emosi atau perasaannya sesuai dengan jenis musik klasik yang mereka dengarkan. Mereka akan ceria dan bahagia jika mereka mendengarkan musik yang menyenangkan. Mereka akan terlihat sedih dan murung jika mendengarkan musik yang menyedihkan (Djohan, 2009).
     Terhadap perkembangan tingkah laku
     Mengurangi kenakalan anak. Kebiasaan mendengar dan memainkan musik klasik ternyata mengurangi perilaku nakal pada anak-anak karena musik klasik bersifat menenangkan (Cutietta, Hamann, & Walker, 1995, dikutip dalam Bernhard, 2007).
     Dapat mengubah perilaku anak. Mendengarkan musik klasik, belajar memainkan alat musik, dan aktivitas musik dalam kelompok merupakan stimulus yang dapat mendorong perubahan perilaku anak menjadi lebih baik (Djohan, 2006).

Simpulan
     Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa musik klasik sangat bermanfaat bagi perkembangan IQ dan EQ anak. Manfaat musik klasik bagi IQ anak, yaitu dapat meningkatkan daya otak, merangsang rekognisi (mengenali kembali), membuat anak lebih kreatif, memperluas fungsi otak, dan meningkatkan kemampuan matematika dan sains. Manfaat musik terhadap EQ anak, yaitu menghilangkan stres, membangkitkan semangat, membantu mengekspresikan diri, dan menentukan perasaan anak. Manfaat lainnya, yaitu mengurangi kenakalan anak dan dapat mengubah perilaku anak. Itu sebabnya orangtua perlu memberikan pelajaran tentang musik klasik untuk anaknya sejak kecil karena musik klasik memiliki banyak manfaat untuk perkembangan anak.





DAFTAR PUSTAKA

Bernhard, S. L. (2007). Panduan bagi orangtua: Les musik untuk anak anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Djohan. (2006). Terapi musik: Teori dan aplikasi. Jakarta: Galangpress Group.
Djohan. (2009). Musik dan Emosi, Kognisi, dan Inteligensi. Dalam Mardiyanto (Ed.), Psikologi musik (3rd ed.), (h. 79-192). Yogyakarta: Penerbit Best Publisher.
Fadil, A . (2013). Jenis musik, pengaruhnya kepada manusia, dan perkembangan anak. Diunduh dari http://dua-enam.heck.in/jenis-musikpengaruhnya-kepada-manusia-da.xhtml
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2014). Musik. Diunduh dari http://kamusbahasaindonesia.org/musik/mirip#ixzz3IN4udQwO
Lucy. (2009). Kembangkan sumber daya anak: Temukan kekuatan potensi anak. Dalam T. Leoni (Ed.), Mendidik sesuai dengan minat dan bakat anak: Painting your children’s future (h. 66). Jakarta: Tangga Pustaka.
Munandar, S. C. U. (2002). Musik klasik dan perannya. Dalam T. Setiabudhi, & Hardywinoto (Ed.), Anak unggul berotak prima (h. 59-67) Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Oxford Dictionaries. (2007). Classical music. Retrieved from http://www.oxforddictionaries.com/us/definition/american_english/classical-music
Satiadarma, M. P., & Zahra, R. P. (2004). Cerdas dengan musik. Diunduh dari http://books.google.co.id/
Sheppard, P. (2007). Music maker your children smarter: Peran musik dalam perkembangan anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suryana, D. (2012). Terapi Musik. Diunduh dari http://books.google.co.id/

Rabu, 05 November 2014

Ketergantungan Anak pada Gadget (Latihan 17) Vania 705140030 A



Ketergantungan Anak pada Gadget
Pengertian Gadget
    Menurut Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, gadget berarti alat atau perangkat. Gadget adalah alat yang praktis, mudah dibawa kemana-mana (Echols & Shadily, 2010).
     Menurut wikipedia (2010), gawai (dalam bahasa Inggris: gadget) adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya.

Berbagai Masalah yang Ditimbulkan akibat Penggunaan Gadget
     Saat ini perkembangan gadget di Indonesia maupun dunia semakin pesat sesuai dengan keadaan jaman. Seperti kita lihat, dalam satu bulan saja kita bisa melihat berbagai macam jenis gadget dengan segala aplikasi yang ada. Ini disebabkan karena gadget selalu mengutamakan perkembangan teknologi modern masa kini. Macam-macam gadget yang paling sering digunakan adalah (a) handphone, (b) laptop, (c) tablet pc, (d) kamera digital, dan (e) pemutar media player.
     Banyak sekali gadget keluaran terbaru dengan menampilkan berbagai fitur dan aplikasi yang lengkap, sehingga membuat para penggunanya menjadi kecanduan. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun ikut menjadi pecandu gadget. Anak-anak usia dini yang belum sekolah, ditambah dengan orangtua yang kaya dan sibuk bekerja akan cenderung memilih gadget sebagai teman bermainnya. Sebagian besar alasan orangtua memberikan gadget pada anak-anak di bawah umur adalah supaya anak tersebut senang karena ada teman di “dunia maya”nya. Namun seperti kita ketahui bahwa pengaruh gadget yang terjadi lebih banyak berdampak negatif daripada dampak positif. Hal ini dikarenakan peran orangtua yang sangat minim dalam mengawasi dan mengontrol anaknya yang sedang bermain gadget. Kurangnya pengetahuan tentang kegunaan gadget yang sesungguhnya menjadi alasan kedua mengapa gadget berdampak buruk bagi anak.

Pengaruh Gadget bagi Perkembangan Anak
     Pengaruh positif gadget. Perkembangan teknologi, seperti gadget yang semakin maju tidak selalu berdampak negatif bagi para penggunanya, khususnya untuk anak-anak. Gadget bisa berdampak positif atau negatif tergantung dari cara menerima dan menggunakan pada anak dan tentunya peran orangtua termasuk didalamnya. Faktor lingkungan dan budaya juga memengaruhi seorang anak dalam bermain gadget. Jika lingkungan sekitar dan teman sebayanya pasif, anak akan cenderung menyukai gadget. Namun bila lingkungannya aktif sehingga mengharuskan anak untuk ikut ambil bagian dalam lingkungan, akan membuat anak tidak tercandu pada gadget.
     “Dikatakan bahwa teknologi memiliki sifat memberdayakan yang bisa mendorong anak untuk melakukan inovasi baru, sehingga masa depan mereka cenderung lebih cerah. Ada juga manfaat lain gadget seperti game PC yang memungkinkan adanya kekuatan kolaborasi anak dalam suatu tim” (Putra, 2013).
     Pengaruh positif lainnya dari penggunaan gadget, yaitu: (a) gadget akan membantu anak supaya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitarnya dan perkembangan zaman, (b) informasi dapat dengan mudah dicari melalui internet yang ada pada aplikasi gadget, (c) membantu anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, (d) sebagai sarana dan prasarana komunikasi karena aplikasi dalam gadget seperti jejarig sosial, dan (e) membantu anak mengabadikan suatu fenomena melalui foto atau video.
     Pengaruh negatif gadget.
     Terhadap perkembangan fisik anak. Menurut Crowan (dikutip oleh huffingtonpost.com, yang dikutip lagi oleh Kartika, 2014) ada beberapa pengaruh negatif penggunaan gadget bagi perkembangan fisik anak, yaitu (a) pertumbuhan otak anak yang terlalu cepat, (b) perkembangan sensori-motorik terhambat, (c) obesitas, (d) mengalami gangguan tidur, (e) pikun digital, (f) penurunan daya konsentrasi dan ingatan, (g) terkena paparan radiasi, dan (h) kurang mampu berbahasa dengan baik.
     Terhadap perkembangan sosial anak. Gadget tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik anak saja, tetapi juga memengaruhi perkembangan sosial anak. Berikut ini beberapa pengaruh negatif gadget terhadap perkembangan sosial anak, yaitu (a) anak kurang bisa berinteraksi sosial secara nyata dengan baik, (b) anak cenderung menjadi pemalu dan penyendiri, (c) anak menjadi tidak disiplin, (d) anak menjadi kurang perhatian dan berempati kepada orang lain, (e) bisa menjauhkan anak dari orangtua atau saudaranya, (f) anak akan sulit menerima kenyataan yang ada karena gadget selalu menampilkan hal yang tidak nyata (maya), (g) anak menjadi tidak bisa bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungannya, (h) anak cenderung antisosial, dan (i) anak cenderung berprasangka negatif terhadap orang lain.

Cara untuk Mengurangi Ketergantungan Anak pada Gadget       
     Menurut psikolog. Menurut Ferliana, (dikutip oleh Prianggono, 2011) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketergantungan anak pada gadget, yaitu  (a) pilih gadget yang sesuai dengan usia anak, (b) batasi waktu anak untuk bermain gadget supaya tidak kecanduan, (c) batasi penggunaan aplikasi negatif pada gadget, (d) waspada antisosial pada anak yang suka bermain gadget, dan (e) hindari kecanduan anak pada gadget.
     Menurut non-psikolog. Cara lain yang bisa orangtua lakukan adalah (a) menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak, (b) mendorong anak untuk aktif di berbagai kegiatan, (c) menyeimbangkan waktu, dan (d) tidak memberikan ponsel saat anak masih terlalu kecil (Husnantia, 2014).